Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo, yang lebih akrab disapa Pak Dirdjo, bukan sekadar seorang guru besar bela diri. Beliau adalah seorang visioner yang berhasil mentransformasi kekayaan tradisi silat nusantara menjadi sebuah sistem yang logis, efektif, dan universal. Lahir di Yogyakarta pada 8 Januari 1913 sebagai keluarga bangsawan Keraton, beliau memiliki akses ke pendidikan dan tradisi bela diri keraton yang sangat eksklusif.

Perjalanan Mencari Sejati

Sejak usia muda, Pak Dirdjo telah menunjukkan minat yang luar biasa pada dunia bela diri. Tidak puas hanya dengan ilmu yang didapat di lingkungan istana, beliau melakukan perjalanan panjang "ngulandara" ke berbagai penjuru pulau Jawa untuk berguru pada banyak ahli silat tradisional. Beliau mendalami berbagai aliran besar seperti Cimande dan Cikalong, serta menyerap inti sari bela diri dari para pendekar di pelosok desa. Namun, salah satu tonggak sejarah terpenting adalah saat beliau mendalami bela diri Tionghoa (Siauw Liem Sie) di bawah bimbingan guru besar **Yap Kie San** di Yogyakarta.

Interaksi dengan berbagai aliran inilah yang membentuk kerangka berpikir Pak Dirdjo. Beliau menyadari bahwa bela diri seharusnya tidak bersifat mistis atau sulit dipahami. Sebaliknya, bela diri harus bisa dijelaskan secara rasional dan dapat dipelajari oleh siapa saja tanpa harus meninggalkan nilai-nilai moralitas ksatria.

Lahirnya Perisai Diri

Pada 2 Juli 1955 di Surabaya, Pak Dirdjo secara resmi mendirikan Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri. Nama "Perisai Diri" memiliki filosofi mendalam: sebuah perisai yang tidak hanya melindungi fisik, tetapi juga menjaga kehormatan dan integritas diri praktisinya. Beliau memperkenalkan metode latihan yang revolusioner pada masanya, yaitu sistem kelas yang teratur dan kurikulum yang dibagi menjadi tingkatan-tingkatan teknis yang jelas.

Salah satu kontribusi terbesar Pak Dirdjo adalah penemuan teknik "Serang Hindar". Berbeda dengan aliran lain yang cenderung pasif menunggu serangan atau agresif tanpa perhitungan, Serang Hindar mengajarkan pesilat untuk melakukan aksi dan reaksi dalam satu detik yang sama. Prinsip ini sangat ilmiah karena menggunakan hukum momentum dan pusat gravitasi lawan sebagai senjata utama.

Warisan untuk Dunia

Hingga akhir hayatnya pada 14 Mei 1983, Pak Dirdjo tidak pernah berhenti mengembangkan teknik-teknik baru. Beliau dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan selalu terbuka terhadap kritik serta perkembangan zaman. Berkat dedikasinya, Perisai Diri kini telah diakui sebagai salah satu organisasi silat terbesar di dunia dengan ribuan anggota yang tersebar di lima benua.

Di PD Panghegar, kami berkomitmen untuk menjaga kemurnian ajaran Pak Dirdjo. Kami percaya bahwa dengan memahami sejarah dan perjuangan beliau, para siswa tidak hanya belajar cara memukul atau menendang, tetapi juga belajar bagaimana menjadi manusia yang beradab dan memiliki mental baja seperti sang pendiri.

Lanjutkan Warisan Sang Pendekar

Daftarkan putra-putri Anda untuk belajar langsung filosofi dan teknik asli Perisai Diri bersama instruktur tersertifikasi di PD Panghegar.

Konsultasi via WhatsApp